UMAHA , Universitas Maarif Hasyimlatief

Universitasnya MAHAsiswa berprestasi dan berpretise

MENDIKBUD 1

PELUNCURAN SPM DIKDA

uni eropa CARTOON

EU

SPM gorontalo

uni eropa

DIRJEN DIKDAS

SAMBUTAN BU RENI

DAKER 4 DAN 5 JATIM

eu - asean

LIMA PILAR MUTU

K2013

PENDIDIKAN DASAR

GEMBIRA JADI JUARA

BELAJAR DARI INTERNE

SOLAWAT NABI

MUSIK

MUSIK 2

Selamat Lebaran

http://m.youtube.com/watch?v=WBdlNrK4XDI

MSS REGIONAL II

Direct Facilitation MSS Education enhance capacity of district and school managements in the participate districts (region II) to achieve MSSs, and assist in the preparation and subsequent implementation of MSSs plans to be financed by district grants Conduct the campaign and socialization of the MSSs Capacity Development Program within each district, explain the scope of the program, and help the district to understand the guidelines (JUKLAK and JUKNIS) for the use of district grants, obtain confirmation of engagement, including details of counterparts and key stakeholders and contributions from the respective district.

SOLAWAT NABI 3

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

HASIL FGD SPM Kab.Bangkalan

Oleh Admin 07-06-2014 15:11:40

Focus Group Discussion

Bangkalan

 

1.        Dinas Kependidikan

 

1.1.    Apakah sudah tahu tentang SPM?

 

-     Seluruh peserta mengetahui SPM, terutama para kasi.

 

1.2.    Apakah pernah mendapatkan sosialisasi tentang SPM? Kalau pernah, dari mana/siapa yang mensosialisasikan SPM?

 

-     Tahun 2013 sosialisasi SPM sudah berjalan, baik untuk struktural, UPT dan Pengawas di Malang, ditambah dengan kegiatan sosialisasi dari program MSS CDP di Bangkalan tahun 2014 d Gedung Merdeka untuk seluruh kepalan SD, SMP, dan Pengawas.

 

1.3.    Bagaimana komitmen pemda (Dinas Pendidikan) terhadap peningkatan mutu pendidikan di SD dan SMP?

 

-     Bagi seksi kelembagaan dan kesiswaan SMP/SMA/SMK memberikan sosialisasi dan informasi gambaran kondisi SPM di sekolah kepada seksi pengelola program untuk ditindaklanjuti dalam bentuk kegiatan sosialisasi atau pelatihan kepada kepala sekolah, pengawas dan UPT.

-     Menyewa konsultan khusus untuk pemahaman SPM dan pendataan implementasi SPM d sekolah melalui data aplikasi

-     Memeberikan support pemenuhan SPM melalui dana APBD di tingkat SMP

 

1.4.    Apakah perencanaan anggaran pendidikan SD dan SMP sudah mengacu SPM?

 

-     Sudah, terlebih-lebih setelah mendapatkan sosialisasi SPM

 

1.5.    Dari mana saja sumber-sumber anggaran untuk pendidikan (SD dan SMP)?

 

-     Sumber dana berasal dari dana APBD

 

1.6.    Apa saja yang menjadi hambatan dalam melaksanakan SPM?

 

-     Anggaran yang kurang memadai menjadikan salah satu hambatan pemenihan SPM di sekolah

-     Paradigma masyarakat desa yang kurang peduli terhadap pendidikan, lebih disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi.

 

1.7.    Bagaimana kerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota?

 

-     Sebatas pertukaran informasi terkait data dapodik

 

1.8.    Bagaimana strategi meningkatkan mutu pendidikan?

 

-     Dari seksi kelembagaan men-support kegiatan uks, adiwiyata, SPP di sekolah.

-     Dari seksi kesiswaan men-support kegiatan MGMP, KKG, KKS

-     Dari seksi kurikulum men-support pembinaan-pembinaan olimpiade atau prestasi akademik baik untuk tingkat kabupaten, propinsi dan nasional. 

-     Dari seksi program men-supprot dengan mengadakan bimtek kurikulum pendataan data dapodik dan sosialisasi kependidikan

 

2.        Kantor Menteri Agama

 

2.1.    Apakah sudah tahu tentang SPM ?

 

  • Pendapat Bapak Jupri : “Spm pelyanan dalam bidang pendidkan yang memenuhi 8 standard. Termasuk di dalamnya evaluasi diri. Dri ed tersebut kemudian di evluasi untuk ditindklanjuti”.
  • Pendapat Bapak Wasono : “Di madrasah ada standard2 yang harus dipenuhi, dan di madrasah yang harus dipenuhi adalah sekitar 6 standard terutama sarana dan  prasarana. Untuk di tingkat mts masih banyak yang belum memnuhi spm”.
  • Pendapat Bapak Imam : “Spm adalah standard pelayanan minimal. Seagai mana permendiknas dikatan bahwa lembaga itu dikatan layak jika minimal memnuhi 8 standar. Dan diantara standr yang harus dipenuhi adalah kepala sekolah yang s1 dan minimal disekolah harus ada 2 guru s1 dan sertifikasi”.
  • Pendapat Bapak Markus: “Standar pelayanan minimal dalam memnuhi mutu pendidikan. Minimal 8 standar. Gambarannya adalah mencapai standard minimal dalam proses, input dan keluaran”.
  • Pendapat Bapak Amin : “Standar yang harus dicapai dalam pelayanan pendidikan untuk mencapai kualitas tertentu yang sudah di tentukan pemerintah”.
  • Pendapat Bapak Samsul : “SPM adalah Siap pacu madrasah. Di kementerian agama menaungi madrasah swasta. Antara lain; 1 MTSN, 2 MIN, 1 MAN dan yang lainnya adalah swasta.  Madrasah swasta ini termasuk lembaga yang memenuhi 8 standar. Dan kami sudah berusaha dalam memenuhi standard tersebut adalah dengan pendataan Emis, dan GIS, sehingga bisa dilihat kekurangan mereka untuk ditindak lanjuti”.

 

2.2.    Apakah pernah mendapatkan sosialisasi tentang SPM? Kalau pernah, dari mana/siapa yang mensosialisasikan SPM?

 

  • Pendapat Bapak Samsul : “Sudah pernah,  adapun pelaksanaannya gabung dengan dinas”.
  • Pendapat Bapak Markus: “Masih belum”.
  • Pendapat Bapak Wasono: “Sudah pernah di malang, bahkan menjadi tim di tingkat sd.  Pelatihan tersebut di laksanakan di surabaya oleh usaid, dengan peserta 4 orang dinas dan 4 orang kemenag”.
  • Pendapat Bapak Jupri: “Belum pernah, hanya pernah mengikuti sosialisasi namun tidak begitu detail karena waktu yang sedikit,  yang dilakukan oleh balai diklat widyaswara”.
  • Pendapat Ibu Hamidah: “Belum pernah”.
  • Pendapat Bapak Amin: “pernah didinas pendidikan propinsi jatim”.

 

2.3.    Bagaimana komitmen pemda (Kantor Kemenag) terhadap peningkatan mutu pendidikan di MI dan MTs?

 

  • Pendapat Bapak Samsul: “Komitment siap memacu madrasah, dalam bentuk pendataan emis, bimbingan tehnis untuk guru2 dalam bentuk bimbingan tehnis kurikulum 2013, sarana dan prasaran pun sudah diusahakan meski tidak semua”.
  • Pendapat Bapak Markus: “Dikarenakan madrasah adlah setengah pesantren maka usaha diwujudkan dalam memenuhi kemampuan akademis dan religius. Tehnisnya, dalam mewujudkan madrasah yg lebih baik dengan mewujudkan pelajaran umum dan agma, sehingga dalam implementasinya pengawas harus melaksanakan sesuai dengan kegiatan yang sudah terstruktur dikemenag. Adapaun peningkatan yang tidak terstruktur adalah mengumpulkan KKM madarasah untuk memberikan berbagai informasi secepat mungkin, sehingga tidak ketinggalan informasi”.
  • Pendapat Bapak Amin : “Dalam Meningkatkan standar pedagogik, kantor kementerian agama memberikan besasiswa s1, memberikan dan atau mengadakan sosialisasi. Dan kami selalu mendorong untuk semua lembaga pendidikan baik negeri dan swasta untuk memenuhi 8 standard itu melalui berbagai cara yang sudah terstuktur, seperti memalui pengawas dan lain sebagainya, sebagaimana diatas”.
  • Pendapat Bapak Wasono: “Menginsentifkan atau mengoptimalkan kkm, kkg, dan mgmp, meskipun kekurangan sarana dan prasana dan pendanaan”.

 

2.4.    Apakah perencanaan anggaran pendidikan MI dan MTs sudah mengacu SPM?

 

  • Pendapat Bapak Amin : “Telah diajukan anggaran sesuai dg kebutuhan, tapi antara harapan dan realita selalu ada gap. Tidak bisa mengatur sesuai dengan kinerja karena Dipa direvisi oleh Provinsi. Mengatasinya gap ini akhirnya diberi kuota setiap madrasah, dan madrasah akan mengatur kuota tersebut sesuai dengan jumlah guru akibatnya tidak dapat memenuhi SPM”.
  • Pendapat Bapak Wasono : “Secara aturan 80 % dalam bos diperuntukkan untuk peningkatan sdm 20 % untuk gaji guru, namun dalam pelaksanaannya madrasah swasta masih belum mengalokasikannya sebagaimana aturan”.

 

2.5.    Dari mana saja sumber-sumber anggaran untuk pendidikan di MI dan MTs?

 

  • Pendapat Bapak Amin : “Satu satunya dari dipa, dan bosda dalam bentuk insentif pada sebagian guru”.

 

2.6.    Apa saja yang menjadi hambatan dalam melaksanakan SPM?

 

  • Pendapat Bapak Imam : “Kendala utama pada guru, adalah banyak mereka yang belum s1 karena banyak yg lulusan pondok pesantren. Ke-2 banyak yang membangun madrasah dengan ketentuan harus ada lembaga pendidikan minimal 3 km meski secara internal belum siap”.
  • Pendapat Bapak Markus : “Jarak tempat tinggal dengan lembaga pendidikan yg jauhmenjadikan datang tidak tepat waktu, sehingga jam pelajaran tidak sesuai spm, ruang guru dan kepala madrasah yg mash belum terpisah, ketersediaan sarana buku yang kurang, dan hanya mengandalkan LKS , ketersedian guru yang kurang dan belum s1”.
  • Pendapat Bapak Imam : “Guru yang tidak membuat bahan ajar dalam pembelajaran”.
  • Pendapat Bapak Wasono : “Struktur organisasi dalam lembaga pendidikan yang mayoritas keluarga yayasan”.
  • Pendapat Bapak Jupri : “Tenaga pendidik mengampu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan keahlian”.

 

2.7.    Bagaimana kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota?

 

  • Pendapat Bapak Amin : “Kerjasama dalam bentuk penggabungan gugus sekolah, misalnya kkm 3 modung, blega konang, meski tidak semua lembaga pendidikan berdekatan”.
  • Pendapat Bapak Amin : “Selama ini Kerjasama masih parsial, seperti kerjasama dalam menjalankan ujian nasional”.
  • Pendapat Bapak Samsul : “Kerjasama dalam bidang pengolahan data melalui internet, namun masih belum berjalan”.

 

2.8.    Bagaimana strategi meningkatkan mutu pendidikan?

 

  • Pendapat Bapak Wasono : “Mengaktifkan forum MGMP, sehingga dalam proses pembelajaran bisa dilaksanakan dengan baik, meski tidak sesuai jurusan/keahlian”.
  • Pendapat Bapak Jupri : “Mengaktifkan KKG dan KKM meski terkendala dengan dana”.
  • Pendapat Bapak Imam : “Ditahun 2006 depag pernah mendapatkan bantuan dr adb, dalam bentuk inservice training dan alhamdulillah productnya bagus, sampai tahun 2008 masih kami lanjutkan untuk melatih guru2 mapel un, sehingga dapat meminimalisir guru yang lulusannya tidak sesuai dengan mapel yang diampu Namun  berhenti setelah itu karena tidak ada support”.
  • Pendapat Bapak Samsul : “Mengoptimalkan kinerja pengawas, mengoptimalkan kegiatan kkm, mgmp, kkm, kkg dan lain sebagainya. Melakukan pemekaran kkm, dengan mengupayakan madarasah yang sudah terakeditasi a, untuk menjadi induk kkm. Mengoptimalkan koordinator kelompok kkm tiap kecamatan untuk pendataan. Melibatkan masyarakat dalam dunia pendidikan”.
  • Pendapat Bapak Amin : “Meningkatkan supervisi akademik ditingkat pengawas ke lembaga pendidikan”.

 

Catatan:

 

A.   PELUANG

 

B.   TANTANGAN

 

-     1 pengawas mi menangani 10 lembaga, mts 1 pngawas mengangani 24 lembaga.

-     Sumber anggaran satu-satunya dari dipa.

-     Spm MI 10%, mts 15 %

 

C.   HAMBATAN

 

-     Tidak mempunyai tenaga pustakawan dan labortorium yang mumpuni, sehingga berjalan kurang baik, Karena tenaga yang diambil adalah tenaga yg ada dari guru yang nota bene tidak memahami manajemen perpustakaan dan laboratorium, bukan tenaga yg fokus pada kedua hal tersebut.

-     Adapun mereka menjadi tenaga pustakawan dan perpustakaan adalah hanya untuk mengejar kekurangan jam dalam sertifikasi dan atau mendapatkan sertifikasi.

-     Terkait alat lab dan buku perpus, sebagian sudah mempunyai alat yang lengkap untuk mi. Dan untuk mts dari 146 tidak sampai 10 % yang memiliki alat yang lengkap.

-     Kekurangan pendanaan dan sarpras, menjadikan kekiatan kkm, kkg, mgmp tidak berjalan maksimal. Untuk selama ini brjalan dengan dana uunan.

-     Disamping itu kondisi geografis pun juga mempegaruhi keaktifan mereka dalam kegiatan pendidikan, seperti kkm, kkkg, mgmp, dan pendataan.

-     Terkadang usulan dipa yg begitu baik namun turunya kadang tidak sesuai harapan, misalnya nilai yg tidak maksimal sebgaimana usulan. Yang selanjutnya diusulkan kemudian selanjutnya.

-     Terkadang dalam peningkatan mutu pedagogik guru, terhambat oleh kebijakan yayasan. Dengan demikian untuk meninimalisir kendala tersebut adalah melakukan komunikasi intensif dengan yayasan untuk memberikan penjelasan bahwa lembaga pendidikan beliau termasuk bagian dari pendidikan di indonesia. Dan alhamdulillah sebagian dari mereka mulai memahami.

 

KEKUATAN

 

-     Dari pendataan yg ada, dari semua kebutuhan yg ada kami mengusulkan anggaran dipa sebanyak banyaknya, sesuuai kebutuhan. Mekanisme pengusulan tersebut melalui propinsi.  

-     kemauan mereka sudah terbangun untuk mencerdaskan anak2 mereka seiring perkembangan bangkalan setelah adanaya jembatan suramadu.

-     Perhatian masyarakat yang tingi baik dalam membantu operasional sekolah. Misalkan penyediaan lahan untuk pendidikan.

 

3.        Kepala Sekolah/Madrasah

 

3.1.    Apakah semua anak usia sekolah di kabupaten/kota ini bisa bersekolah di SD/MI atau SMP/MTs?

 

  • Menurut Bpk. Herdi susanto (Ka. SDN Pejagan 3) “blm tentu. Kalau di perkotaan 99% bisa bersekolah, akan tetapi kalau di pedesaan anak biasanya diberi beban seperti menjaga adik-adiknya dan kebanyakan membantu org tua mencari rumput”.
  • Menurut Ibu Indrawati (Ka. SDN Mlajah 2) “didaerah saya kebanyakan kelas 2 keatas byk yg DO, akan tetapi di sekolah ini bnyk sekolah sampai lulus”.
  • Menurut ibu Silvana (Ka.SDN Bancaran 2) “100 % banyak yg lulus dan melanjutkan sekolah”
  • Menurut Bpk.Junaidi (Ka. SDN kemayoran 1) “disini para pendatang kebanyakan yang pendidikannya kurang, akan tetapi penduduk disana sendiri antusias lebih besar untuk menyekolahkan anaknya”.
  • Menurut Bpk. Eddy Suryantoro (Ka.SDN pejagan 6) Masyarakat di daerah disini mempunyai antusias lebih besar untuk menyekolahkan anak-anak mereka”.
  • Menurut Bpk.Syamsul Hayat (Ka.SMPN 4 Bangkalan) “antusia masyarakat sangat tinggi sehingga daya tampung disekolah ini kurang, bahkan banyak yang keluar daerah untuk melanjutkan sekolah dan juga tidak menutup kemungkinan permintaan orang tua untuk sekolah di luar daerah mereka, demi anak-anak mereka.
  • Menurut Bpk. Abd. Wahid. HS (Ka. MTs Al-Ma’arif) : Siswa semakin meningkat dari tahun ke tahun, akan tetapi sarana di sekolah ini kurang memadai.

 

3.2.    Apa yang menjadi kendala (siswa dan guru) untuk menuju ke sekolah?

 

“tidak ada kendala kecuali sakit dan tugas keluar sekolah kecuali anak-anak yang tinggal di pedesaan”. (Jawaban Seluruh Kepala)

 

3.3.    Apakah ada persoalan dengan kondisi sarana dan prasarana sekolah/madrasah seperti ruang kelas, meja, kursi dan perlengkapan lainnya?

 

  • Menurut Bpk.Junaidi (Ka. SDN kemayoran 1)  “Sarana dan prasarana Cukup Memadai”
  • M. Salehuddin, M.Pd (Ka. SMP  5 Bangkalan) “dalam kondisi baik”
  • Hj. Silviana, M.Pd (Ka.SDN Bancaran 2)  “Sarpras sdh memadai hanya masih ada keterbatasan SDM mengenai IT”
  • Kepala Sekolah SMPN I Bangkalan  “Masih kurangnya ruang belajar sehingga siswa di bagi 2, masuk pagi dan siang”
  • Indrawati (Ka. SDN Mlajah 2) “masih belum memadai, karena adanya penggunaan ruangan lain sebagai ruang belajar seperti perpustakaan”.
  • Drs. Eddy Suryantoro (SDN Pejagan 6)  “kami masih kekurangan ruangan dan kursi , sebagian besar banyak yg rusak. Ruang guru masih menjadi 1 dengan kepala sekolah”
  • Dra. Sumarmi (Ka.SDN demangan 1)  “Sekolahan kami masih kekurangan, sehingga Ruang perpus dialih fungsikan menjadi kelas. Mussholla juga belum ada untuk menunjang kegiatan Guru Agama”.
  • Edy Hosyadi (Ka. SMP 2 Bangkalan)  “Kursi dan Meja perlu perbaikan krn banyak yang rusak. alat-alat Lab. Pun juga kami kekurangan”.
  • Moh. Syamsul (Ka.SMP 4 Bangkalan)  “banyaknya siswa, menjadikan sekolah kami kekurangn MCK”.

 

3.4.    Bagaimana hasil evaluasi terhadap kinerja guru (PNS, Non PNS atau Guru tetap yayasan)?

 

  • Menurut ibu Silvana (Ka.SDN Bancaran 2) “Tidak ada perkembangan, Tetap dari tahun ke tahun”.
  • Menurut Bpk. Eddy Suryantoro (Ka.SDN pejagan 6) “90% memenuhi standart, 10% kinerjanya kurang baik. Hal tersebut biasanya disebabkan karena sakit, menjelang pensiun. Untuk mensiasatinya mengangkat GTT”.
  • Menurut ibu Nurhayati Eka (Ka.SDN Kemayoran 1) “Sudah mendekati 100%, tupoksi sdh dilaksanakan dg baik”.
  • Menurut Bpk. Eddy Suryantoro (Ka.SDN pejagan 6) “Hampir 90% kinerja guru sudah baik”.
  • Menurut Bpk.Syamsul Hayat (Ka.SMPN 4 Bangkalan) “Faktor usia berpengaruh dlm kinerja guru, dan setiap sekolah pasti ada”
  • Menurut Kepala Sekolah SMPN 1 Bangkalan “Hmpir 90% sudah bagus”
  • Menurut Bpk.H. Abd.Wahid, HS (Ka. MTS. Al-Ma’arif ) “Membuat SPK (surat Penentuan Kerja) untuk guru setelah mereka diterima menjadi guru di madrasah, dengan perjanjian-perjanjian yang jelas, karena kebanyakan disini guru dari luar, sehingga sulit dalam mengevaluasi kinerja guru. Semua tergantung kemauan guru itu sendiri dan ketegasan dari madrasah atau yayasan”.
  • Indrawati (Ka. SDN Mlajah 2) “Kinerja guru sudah bagus”.

 

 

3.5.    Bagaimana meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan lainnya?

 

  • Indrawati (Ka. SDN Mlajah 2) : membuat jadwal supervisi kelas.
  • M. Salehuddin, M.Pd (Ka. SMP  5 Bangkalan) dari kepala sekolah memberi  contoh yang bagus
  • Eddy Drs. Eddy Suryantoro (SDN Pejagan 6) pemberian motifasi pada guru,bekerja sebagai ibadah
  • H. Abd.Wahid, HS (Ka. MTS. Al-Ma’arif ) tergantung pada SPK, Pembayaran HR Guru yg menjadi motifasi guru tersebut, mengundang pengawas dari diknas setiap bulan setiap pembelajaran berlangsung.

 

3.6.    Bagaimana meningkatkan partisipasi komite sekolah dalam pengembangan pendidikan?

 

  • Eddy Drs. Eddy Suryantoro (SDN Pejagan 6) “peran DP3 atau komite relatif sama, adanya kerjasama yg baik dalam memajukan sekolah”.
  • Hj.Nurhayati Eka, M.Pd (Ka. SDN Kemayoran 1) “adanya paguyuban (org tua ) yg suka rela membantu dalam kemajuan sekolah anaknya, membuat peran komite berkurang”.
  • H. Abd.Wahid, HS (Ka. MTS. Al-Ma’arif ) “komite selalu berperan aktif dalam memajukan sekolah”.
  • Dra. Sumarmi (Ka.SDN demangan 1) “dalam memjukan sekolah selalu melibatkan komite dalam menyelesaikan masalah utk kemajuan sekolah”.
  • Hj. Silviana, M.Pd (Ka.SDN Bancaran 2) “selalu berkoordinasi dengan komite dalam memajukan sekolah”.
  • Indrawati (Ka. SDN Mlajah 2) “komite berperan dalam membantu fasilitas sekolah yg kurang, dalam hal ini kamar kecil dan papan nama”.
  • M. Salehuddin, M.Pd (Ka. SMP  5 Bangkalan) “Komite berperan hanya sebagai penasehat”
  • Edy Hosyadi (Ka. SMP 2 Bangkalan) “hubungan dg komite kurang koordinasi. Dan komite disini sebagai penasehat”.
  • Kepala Sekolah SMP 1 Bangkalan : Komite sebagai penasehat dalam sekolah

 

3.7.    Faktor pendukung apa saja yang dapat meingkatkan prestasi guru dan tenaga pendidikan lainnya?

 

“Memberi contoh yang baik, mengkoordinasikan visi dan misi keseluruh masyarakat sekolah dan memmanusiakan serta selalu mensupport mereka dengan baik” (jawaban seluruh kepala sekolah)

 

3.8.    Bagaimana strategi mengelola sekolah/madrasah yang baik?

 

•    Hj. Silviana, M.Pd (Ka.SDN Bancaran 2) : harus mempunyai program bagus kedepannya

•    Hj.Nurhayati Eka, M.Pd (Ka. SDN Kemayoran 1): Perencanaan dlm anggaran dan evaluasi

•    H. Abd.Wahid, HS (Ka. MTS. Al-Ma’arif ): Kerjasama dg stakeholder, mencoba dlm sisi administrasi, 8 standart proses.

•    Indrawati (Ka. SDN Mlajah 2): Meningkatkan kinerja, Menjalin hubungan yg baik dg komite sehingga dpt berkomunikasi mencari jln keluar bagaimana agar siswa bs rajin dtg kesekolah, dlm proses pembelajaran selalu meningkat dari waktu ke waktu.

•    Edy Hosyadi (Ka. SMP 2 Bangkalan): Melaksanakan visi dan misi sekoloah tersebut, Melakukan evaluasi setiap semester.

 

4.        Guru Sekolah/Madrasah

 

4.1.    Apakah semua anak usia sekolah di kabupaten/kota ini bisa bersekolah di SD/MI atau SMP/MTs?

 

•    Menurut Atikah (guru SMPN 4 Bangkalan) “Kebanyakan anak-anak sekolah namun ada masalah, kemudian DO dan tidak meneruskan sekolah lagi”

•    Menurut Machasiyah (guru SMPN 2 Bangkalan) “Faktor ekomoni, lingkungan jg menjadi pengaruh sehingga siswa malas sekolah”.

•    Menurut Hj. Siti Subaidah (guru SDN Demangan I) “Faktor ekonomi berpengaruh, sekolah tidaknya anak”.

•    Menurut Aminah, S.Pd (guru SDN Pejagan 3) “anak-anak yang tidak bersekolah banyak dari pendatang, yang fokus orang tua hanya berjuang mencari nafkah”

•    Menurut Siti Nur Jannah (guru SDN Pejagan 6) Didaerah sekitar sekolah kami, hampir 99% anak-anak bersekolah, namun di daerah tempat tinggal saya ada banyak anak yg tdk sekolah karena di daerah tersebut (Ketengan) blm ada sekolah MI/SD. Karena jauhnya akses ke sekolah menjadikan mereka enggan menyekolahkan ke sekolah formal, mereka hanya dimasukkan di madrasah dinniyah”

•    Menurut Asty Dian K. (guru SDN Mlajah 2) Disekitar daerah SDN Mlajah 2, sebagian besar bersekolah,  Akan tetapi di daerah rumah saya, sebagian anak yg mempunyai keterbelakangan  tidak bisa bersekolah tidak diterima disekolah formal, disamping itu karena jauh dari sekolah Khusus, dan  biasanya para orang tua enggan karena mereka malu”.

•    Menurut Endang Kentjanawati (guru SMPN 1 Bangkalan) “adanya keinginan masyarakat disekitar sekolah yg ingin bersekolah di sekolah ini, akan tetapi terbentur suatu sistem di sekolah, sehingga mereka tidak bisa terjaring masuk di SMPN I, sehingga mereka harus masuk sekolah lain, yang kemudian mereka menjadi malas dan ahirnya keluar/DO”.

•    Menurut Azis Samsuri (guru SMPN 5 Bangkalan) “masih adanya beberapa pungutan yg memberatkan orang tua yg sebagian adalah buruh, menjadikan mereka tidak bisa meneruskan anak-anak mereka sekolah lagi”.

•    Menurut Siti Mahabbah (guru SDN Bancaran 2) : 99% sdh bersekolah. Yg cacat fisik jg bisa bersekolah

•    Menurut Rifa Agustina (guru MTs An-Namirah) “Sebagian besar telah bersekolah”

 

4.2.    Apa yang menjadi kendala (siswa dan guru) untuk menuju ke sekolah?

 

“Tidak ada kendala karena di daerah kota, karena akses yang cukup mudah untuk menuju sekolah, tetapi tidak untuk pedesaan”. (jawaban semua guru)

 

4.3.    Apakah ada persoalan dengan kondisi sarana dan prasarana sekolah/madrasah seperti ruang kelas, meja, kursi dan perlengkapan lainnya?

 

•    Menurut Heri Sunjoto (guru SDN Kemayoran 1) “Sarana dan prasarana sdh tercukupi”

•    Azis Samsuri (guru SMPN 5 Bangkalan) “dalam kondisi baik”

•    Menurut Rifa Agustina (guru MTs An-Namirah) “Sdh memadai”

•    Menurut Siti Mahabbah (guru SDN Bancaran 2) “Sarpras sdh memadai hanya masih ada keterbatasan SDM mengenai IT”

•    Menurut Endang Kentjanawati (guru SMPN 1 Bangkalan) “Masih kurangnya ruang belajar sehingga siswa di bagi 2, masuk pagi dan siang”

•    Menurut Asty Dian K. (guru SDN Mlajah 2) “masih belum memadai, karena adanya penggunaan ruangan lain sebagai ruang belajar seperti perpustakaan”.

•    Menurut Siti Nur Jannah (guru SDN Pejagan 6) “kami masih kekurangan ruangan dan kursi , sebagian besar banyak yg rusak. Ruang guru masih menjadi 1 dengan kepala sekolah”

•    Menurut Aminah, S.Pd (guru SDN Pejagan 3) “Sarana dan prasarana telah mencukupi”.

•    Menurut Hj. Siti Subaidah (guru SDN Demangan I)  “Sekolahan kami masih kekurangan, sehingga Ruang perpus dialih fungsikan menjadi kelas. Mussholla juga belum ada untuk menunjang kegiatan Guru Agama”.

•    Menurut Machasiyah (guru SMPN 2 Bangkalan) “Kursi dan Meja perlu perbaikan krn banyak yang rusak. alat-alat Lab. Pun juga kami kekurangan”.

•    Menurut Atikah (guru SMPN 4 Bangkalan)  “banyaknya siswa, menjadikan sekolah kami kekurangn MCK”.

 

4.4.    Bagaimana dengan ketersediaan buku referensi dan buku pengayaan?

 

•    SDN Pejagan 6 : untuk buku referensi memadai. Untuk buku pengayaan masih sekitar 45%

•    SDN Pejagan 3 : untuk buku referensi memadai. Untuk buku pengayaan masih 50 % buku

•    SDN Demangan 1 : untuk buku referensi memadai. Untuk buku pengayaan masih 80%

•    SMPN 2 Bkl : Memenuhi.

•    SMPN 4 Bkl : dua-duanya masih kurang

•    MTs an-Namirah : 70% buku hanya mapel umum

 

4.5.    Apakah ada masalah dengan meningkatkan prestasi anak didik? Bagaimana strategi meningkatkan prestasi anak didik?

 

•    SDN Kemayoran 1 : membuat sistem belajar lebih senang

•    MTs : dengan media pembelajaran agar siswa lebih senang

•    SMPN 5 Bkl : dengan persiapan metode yg akan digunakan

•    SDN Pejagan 6 : dengan metode sesuai dengan keinginan siswa tersebut

•    SMPN 2 Bkl : dengan persiapan metode yg akan digunakan dan diadakan evaluasi

 

4.6.    Faktor apa saja yang pendukung terhadap peningkatan prestasi anak didik?

 

Mematangkan persiapan mengajar, membuat RPP dan metode yang tidak membosankan siswa, serta mengadakan evaluasi siswa dan guru (jawaban semua guru)

 

4.7.    Bagaimana kondisi faktor-faktor pendukung tersebut?

 

Tidak semuanya bagus mesti ada kurangnya, namanya manusia tapi selalu dievaluasi oleh sesama guru dan kepala sekolah melalui supervisi (jawaban semua guru)

 

4.8.    Bagaimana strategi mengelola sekolah/madrasah yang baik?

 

Dengan kerjasama dengan komite, stake holders, dan seluruh masyarakat sekolah atau madarasah dlm segala bidang, dan melaksanakan tugas masing-masing dengan baik (jawaban semua guru)  

 

5.        Komite Sekolah/Madrasah

 

5.1.    Apakah sudah memahami SPM?

 

  • Menurut bapak sugiran (komite SDN Pejagan 6) “standar pelayanan minimal yang dilaksanakan sekolah untuk pelayanan peserta didik”
  • Menurut bapak Sugiono (ketua Komite SMP 4) “Standar pelayanan minimal yang terdiri dari 8 standar antara lain standar proses, sarpras, kurikulum, proses”.
  • Menurut Ibu Sumariyah(anggota komite pejagan 3) “standar yang digunakan untuk memajukan kbm di sekolah yang anatara lain standar proses dll”.
  • Menurut Ibu Rina Wasih (Bendahara Komite) “Cara untuk memperbagus sekolah melalui peran serta komite”
  • Menurut bapak. H. Fathur Rohim (anggota komite Demangan I) “Masih belum memahami terkait dengan spm. (peran komte sangat baik dengan sekolah berkenaan dengan memberikan penjelasan kepada orang tua murid terutama berkenaan dengan dana). Tidak hanya pembiayaan tp juga support kepada guru”.
  • Menurut Bapak muhari (Ketua Komite Bancaran 2) “Spm adalah ukuran minimal yg dijadikan tolak ukur dalam melayani masyarakat sekolah/peserta didik”.

 

5.2.    Apa saja peran komite sekolah? Apa saja yang sudah berjalan?

 

  • Menurut Bapak Muhari (Ketua Komite Bancaran 2) “komite harus bisa melihat persiapan sekolah, guru dan sarana. Terkait dengan peran komite adalah menjembatani menyelesaikan masalah sekolah, seperti kekurangan guru yg berkoordinasi dengan UPT. Berkaitan dengan dana masih belum bisa membantu karena terhalangi dengan bantuan bos, karena anggapan masyarakat semua pembiayaan sudah terdapat didalam bos. Disamping itu juga mengevaluasi perencanaan anggaran dan kegiatan sekolah”.
  • Menurut bapak. H. Fathur Rohim (anggota komite Demangan I) “peran komite hanya sebatas meberikan penjelasan kepada masyarakat terkait dengan pemanfaatan dana bos. komite tidak dilibatkan dalam perencanaan anggran, hanya tau jadinya RKAS”.
  • Menurut bapak Sugiono (ketua Komite SMP 4) “Mengharap dilibatkannya pembuatan RKAS, dan urun rembug dalam pembuatan kegiatan sekolah. sementara ini komite tidak dilibatkan dalam perumusan kegiatan sekolah dan perencanaan RKAS”.
  • Menurut bapak sugiran (komite SDN Pejagan 6) “komite dilibatkan dalam mengevaluasi perencanaan RKAS”.

 

5.3.    Apakah ada persoalan dengan pelaksanaan peran komite sekolah?

 

  • Menurut bapak Sugiono (ketua Komite SMP 4) “Adanya paguyuban tiap kelas dari wali murid membuat komite canggung ketika berperan aktif, karena kekurangan dananya sudah bisa terpenuhi dengan bantuan dana paguyuban dari wali kelas dari tiap2 kelas”.
  • Menurut bapak Jauhari (wakil ketua Komite SDN Kemayoran I) “peran komite hanya formalitas, hanya ketika kekurangan dana saja komite dilibatkan, sehingga komite menjadi sungkan datang ke sekolah untuk memberi pemikiran dan ide karena tiap kali datang selalu disambut dengan wah dan berlebihan”.

 

5.4.    Apa saja yang harus dilakukan komite sekolah dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/madrasah? 

 

  • Menurut bapak Jauhari (wakil ketua Komite SDN Kemayoran I) “Hanya sebatas memberikan saran, seperti mencarikan link untuk sebagai penyandang dana peningkatan mutu pendidikan sekolah”

 

5.5.    Bagaimana kerjasama antara kepala sekolah, guru dan komite sekolah?

 

  • Menurut bapak Sugiono (ketua Komite SMP 4) “Karena tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan anggaran menjadikan sungkan untuk berkoordinasi dengan pihak sekolah. sebelum adanya koordinasi sekolah dan komite sangat bagus  tidak hanya bangunan dan pemenuhan dana tapi juga peninggkatan mutu, namun menjadi enggan ketika sudah da bos karena sudah terpenuhi sebagian besar dari situ”
  • Menurut Ibu Rina Wasih (Bendahara Komite) “Mencoba Komite mencari tau kegiatan2 sekolah tanpa menunggu informasi dari sekolah meski tidak dilbatkan. pernan komite sangat baik yakni berkoordinasi dengan sekolah dan guru dalam peningkatan mutu hanya sebatas untuk kelas 6, seperti penambaham jam belajar siswa, .memberikan link ngo untuk mencari funding dalam mencari bantuan dana untuk peningkatan mutu pendidikan sekolah”
  • Menurut bapak. H. Fathur Rohim (anggota komite Demangan I) “peran komite kurng baik karena hanya formalitas dan hanya dilabatkan dalam memberi saran dan mencari anggraan”.

 

5.6.    Bagaimana mengenai jumlah waktu belajar di sekolah/madrasah?

 

  • Dalam perencanaan jam pelajaran di sekolah komite tidak dilibatkan, hal tersebut adalah kewenagnan sekolah (jawab semua komite)

 

5.7.    Bagaimana dengan mata pelajaran pokok di sekolah/madrasah?

 

  • Kami juga orang tua, jadi kami mengetahui mata pelajaran pokok disekolah yang nantinya akan di UN-kan (jawab semua komite)   

 

5.8.    Bagaimana dengan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah?

 

  • Menurut Ibu Rina Wasih (Bendahara Komite) “Memberikan pelajaran tambahan les sekolah bagi kelas 6”.
  • Dalam hal ini komite sangat dilibatkan dalam rapat, perencanaan dan penggalangan dana, terutama jika ada even2 lomba . (jawab semua komite)

 

5.9.    Bagaimana strategi meningkatkan mutu sekolah/madrasah?

 

  • Menurut bapak Sugiono (ketua Komite SMP 4) “Mengangkat guru honorer ketika ada kekurangan guru”.
  • Membuat perencanaan anggaran dan kegiatan sekolah dengan baikdan mengharmoniskan hubungan sekolah dan komite”. (jawab semua komite)

 

Solusi menjadikan komite dipandang:

 

  • Meningkatkan peran dan posisi komite dengan memberntuk Asosiasi Komite Sekolah.
  • Mengkoordinasikan tupoksi masing2 agar berjalan dengan baik, sehingga tidak tumpang tindih dengan tupoksi dewan pendidikan.
  • Membentuk asosiasi komite sekolah sebagai kepanjangan tangan sekolah ke dewan atau kabupaten. Dan itu dibentuk dari tingkat kabupaten sebagai ketua kpmite kabupaten sampai ditiap kecamatan, sebgai koordinator komite kecamatan.
  • Indikasi politis dalam dewan pendidikan sehingga tidak berjalan dengan baik, dengan demikian jalan salah satunya adalah komite memberntuk asosiasi komte sekolah tiap kecamatan, untuk mengevektifkan posisi dan tupoksi komite sekolah. Komite pendidikan fokus berjalan pada hal2 teknis dan dewan pendidikan dalam hal kebijakan. Dengan demikian tidak akan terjdi tumpang tindih kegiatan.
  • Diberikan pembekalan terkait peran komite dan tupoksinya, bersama dengan kepala sekolah.
  • Peran komite di kota 70% dan didesa 30%