UMAHA , Universitas Maarif Hasyimlatief

Universitasnya MAHAsiswa berprestasi dan berpretise

MENDIKBUD 1

PELUNCURAN SPM DIKDA

uni eropa CARTOON

EU

SPM gorontalo

uni eropa

DIRJEN DIKDAS

SAMBUTAN BU RENI

DAKER 4 DAN 5 JATIM

eu - asean

LIMA PILAR MUTU

K2013

PENDIDIKAN DASAR

GEMBIRA JADI JUARA

BELAJAR DARI INTERNE

SOLAWAT NABI

MUSIK

MUSIK 2

Selamat Lebaran

http://m.youtube.com/watch?v=WBdlNrK4XDI

MSS REGIONAL II

Direct Facilitation MSS Education enhance capacity of district and school managements in the participate districts (region II) to achieve MSSs, and assist in the preparation and subsequent implementation of MSSs plans to be financed by district grants Conduct the campaign and socialization of the MSSs Capacity Development Program within each district, explain the scope of the program, and help the district to understand the guidelines (JUKLAK and JUKNIS) for the use of district grants, obtain confirmation of engagement, including details of counterparts and key stakeholders and contributions from the respective district.

SOLAWAT NABI 3

Pengumuman Unair

[LENGKAP]

Penerimaan Mahasiswa Baru Unair

[LENGKAP]

Pengumuman Sekolah

HASIL FGD SPM Kab.Gresik

Oleh Admin 07-06-2014 15:09:44

Focus Group Discussion

Gresik

 

1.        Dinas Kependidikan

 

1.1.    Apakah sudah tahu tentang SPM?

 

•  Sebagian besar staf dinas pendidikan sudah memahami tetang SPM

 

1.2.    Apakah pernah mendapatkan sosialisasi tentang SPM? Kalau pernah, dari mana/siapa yang mensosialisasikan SPM?

 

•  Staf Dinas Pendidikan sudah pernah mendapatkan sosialisasi dari Kementrian dan direktorat SMP tahun 2010. Dinas Pendidikan Kab. Gresik memiliki tim khusus yang menangani SPM yaitu di Bidang Peningkatan Mutu. Hasil SPM sudah disampaikan ke masing-masing bidang setiap tahun

 

1.3.    Bagaimana komitmen pemda (Dinas Pendidikan) terhadap peningkatan mutu pendidikan di SD dan SMP?

 

•  Pemda/ Dinas Pendidikan mempunyai komitment yang bagus dalam peningkatan mutu pendidikan SD dan SMP. Hal ini terbukti bahwa dalam menentukan kebijakan, peningkatan mutu diambil dari data SPM(terutama untuk fisik) dan sebagai bahan musrenbang.

•  KKG, MGMP telah dilaksanakan secara optimal (bantuan dari BERMUTU).

•  Anggaran pendidikan termasuk gaji pendidik di Kabupaten Gresik sudah mencapai 37%.

•  Dari alokasi dana tersebut masih belum pernah dilakukan analisis keuangan pendidikan; berapa anggaran yang digunakan untuk gaji pendidik dan non pendidik, berapa anggaran yang digunakan untuk operasional sekolah dan sekolah, berapa anggaran yang digunakan untuk belanja investasi sanpras dan non sanpras. Dari non sanpras tersebut berapa anggaran yang digunakan untuk peningkatan mutu.

 

1.4.    Apakah perencanaan anggaran pendidikan SD dan SMP sudah mengacu SPM?

 

•  Dalam menyusun perencanaan dan anggaran Pendidikan SD dan SMP, Dinas Pendidikan  sudah mengacu pada SPM. RPJMD, Renstra, Renja, RKA dan DPA sebagian besar sudah mengacu pada hasil SPM. Belum semua hasil SPM direalisasikan dalam RKA karena keterbatasan anggaran

 

1.5.    Dari mana saja sumber-sumber anggaran untuk pendidikan (SD dan SMP)?

 

•  Sumber anggaran untuk pendidikan SD dan SMP antara lain berasal dari APBN, APBD Provinsi, APBD Kabupaten dan CSR dari Perusahan yang masih bersifat insidental.

 

1.6.    Apa saja yang menjadi hambatan dalam melaksanakan SPM?

 

a.   Keterbatasan dalam anggaran terutama dalam perbaikan dan pengadaan sanpras

b.   Masih rendahnya kopetensi dari sebagian unsur Komite sekolah, guru, kepala sekolah dan pengawas dalam melaksanakan tupoksinya

c.   Masih ada kemampuan manajerial sekolah yang masih rendah

d.   Rendahnya kemampuan ICT dari sebagian stakeholder pendidikan

 

1.7.    Bagaimana kerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota?

 

Kerjasama dinas pendidikan dan kemenag sudah cukup baik. Kerjasama tersebut antara lain mencakup :

a.   Sosialisasi kebijakan pendidikan

b.   Pendanaan seperti bantuan hibah guru swasta (PBGDS), Ujian, jasmas, BOS

c.   Kegiatan bersama dalam MGMP SD/MI, Pelatihan Guru melek IT, UN, Paket, Pengelolaan data.

 

1.8.    Bagaimana strategi meningkatkan mutu pendidikan?

 

Strategi peningkatan mutu pendidikan yang diusulkan meliputi :

 

Peningkatan sumber dana pendidikan melalui :

a.   Menggugah kembali peran serta masyarakat yang saat ini sudah mati suri karena slogan pendidikan gratis

b.   Menjalin kemitraan dengan semua instansi,  lembaga dan perusahaan dalam anggaran pendidikan dan peningkatan mutu

 

Peningkatan kapasitas SDM :

a.   Peningkatan kapasitas Komite, guru, kepala sekolah dan pengawas sesuai dengan tupoksinya

b.   Peningkatan kapasitas managerial kepala sekolah

c.   Peningkatan kapasitas penggunaan IT bagi Stakeholder pendidikan (Dinas pendidikan dan sekolah)

d.   Workshop kopetensi pengawas tentang program pengawas tahunan

 

Perbaikan dan pemenuhan sarana dan prasarana sekolah :

a.   Ruang kelas dan isinya

b.   Pemenuhan ruang guru

c.   Laboratorium

d.   Pengelolaan perpustakaan

 

Kebijakan :

a.   Stadarisasi jumlah murid

b.   Standarisasi jumlah sekolah

 

2.        Kantor Menteri Agama

 

2.1.    Apakah sudah tahu tentang SPM?

 

•    Sebagian pengawas telah tahu dan paham tentang SPM, mengingat Gresik merupakan kabupaten pilot SPM sejak 2010. Dan menurut pengawas Kemenag data madrasah di update rutin tiap tahun.

 

 

 

2.2.    Apakah pernah mendapatkan sosialisasi tentang SPM? Kalau pernah, dari mana/siapa yang mensosialisasikan SPM?

 

•    Pernah sejak tahun 2010. Mendapat Sosialisasi saat kegiatan pelaksanaan kegiatan piloting dari tim konsultan SPM

 

2.3.    Bagaimana komitmen pemda (Kantor Kemenag) terhadap peningkatan mutu pendidikan di MI dan MTs?

 

•    Peningkatan mutu pendidikan dilakukan melalui serangkaian pelatihan, namun dana yang dialokasikan Pemda melalui APBD II sangat terbatas, sehingga untuk memperlancar pelatihan, beberapa peserta dari kemenang bersedia memberikan kontribusi dana pribadi agar pelaksanaan pelatihan bisa berjalan lancar.

•    Pelatihan sering dilakukan umumnya karena memperoleh bantuan program dari pihak luar seperti SPM, SSQ dll.

 

2.4.    Apakah perencanaan anggaran pendidikan MI dan MTs sudah mengacu SPM?

 

•    Belum mengacu pada SPM. Bahwa dana DIPA yang dialokasikan dari pusat sebagian besar untuk membayar gaji guru, staf dan tenaga pendidikan. Sedangkan alokasi untuk operasional hanya sebesar 2%

 

2.5.    Dari mana saja sumber-sumber anggaran untuk pendidikan di MI dan MTs?

 

•    Sumber utama dari DIPA yang ditetapkan pemerintah Pusat. Karena semua kebutuhan ditentukan oleh pusat, bahkan sering antara kebutuhan dan alokasi dana tidak sesuai.

•    Terdapat dana dari BOSDA/BOS APBN tetapi dana tersebut sebagian untuk gaji

•    Jasmas sebesar 1 M per tahun yang merupakan usulan anggota DPRD dan 30% dialokasikan untuk pendidikan. Namun jumlah yang turun ke MI, MTs tergantung pada anggota DPRD tersebut apakah memprioritaskan pada pendidikan, termasuk peningkatan mutunya.

•    Bantuan program dari donor seperti program SPM, SSQ dll.

 

2.6.    Apa saja yang menjadi hambatan dalam melaksanakan SPM?

 

•    Pendataan sering diupdate secara rutin, namun tindak lanjut kegiatan tidak jelas.

•    MI dan MTs hampir tidak tersentuh oleh dana Pemda. Karena diasumsikan bahwa dana APBN yang diterima Kemenag sudah meliputi dan mencukupi semua hal seperti UKS, sertifkitasi, buku dll.

•    Pemerintah (pusat maupun daerah) sering membuat aturan/kebijakan pendidikan yang tidak jelas, bahkan sering  tidak mendukung aturan/kebijakan lain; seperti sekolah gratis, kebijakan membangun sarana prasarana sekolah melalui sistem kontraktual. Sehingga kebijakan tersebut justru mengurangi peran serta masyarakat.

 

2.7.    Bagaimana kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota?

 

•    Kerjasama yang dilakukan masih terbatas pada pelaksanaan UN dan akreditasi

 

 

2.8.    Bagaimana strategi meningkatkan mutu pendidikan?

 

•    Bahwa kebijakan daerah dalam peningkatan mutu harus menyentuh madrasah MI/MTs juga. Hal ini dikarenakan dana DIPA tidak mencukupi untuk peningkatan mutu.

•    Proporsi jumlah peserta pelatihan yang meliputi pengawas, kepala sekolah, guru harus seimbang antara sekolah dan madrasah. Karena sejauh ini porsi terbesar berasal dari sekolah.

•    Kebutuhan buku untuk siswa sekolah & madrasah perlu di drop dari pemda dengan proporsi seimbang dan tidak hanya memprioritaskan pada sekolah negeri saja.

 

3.        Kepala Sekolah/Madrasah

 

3.1.    Apakah semua anak usia sekolah di kabupaten/kota ini bisa bersekolah di SD/MI atau SMP/MTs?

 

•    Masih ada anak usia sekolah Tingkat SMP/ MTs di Kota Gresik yang tidak bersekolah, karena pergaulan yang kurang tepat dan kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan. Kepala sekolah dan guru sudah mengajak mereka ke sekolah, namun mereka tidak mau. Misalnya mereka mengamen di jalan bisa mendapatkan uang dari pada sekolah dan bergerombol bersama temannya yang sudah dewasa

 

3.2.    Apa yang menjadi kendala (siswa dan guru) untuk menuju ke sekolah?

 

•    Yang menjadi kendala utama kendala utama bagi guru dan siswa ke sekolah pda daerah tertentu adalah faktor alam, misalnya di SDN Tambak Beras sering terjadi banjir dan tidak bisa dilewati. Di SMP 3 Balong Panggang kondisi jalan becek saat hujan tiba. Ada sebagian anak yang lebih suka mencari tumpangan kendaraan pickup terbuka dari pada naik kendaraan umum (angkot).

 

3.3.    Apakah ada persoalan dengan kondisi sarana dan prasarana sekolah/madrasah seperti ruang kelas, meja, kursi dan perlengkapan lainnya?

 

•    Sekolah/ Madrasah di Gresik masih mempunyai persoalan dengan kondisi sarana dan prasarana sekolah/madrasah seperti ruang kelas, meja, kursi dan perlengkapan lainnya terutama di sekolah/ madrasah swasta. Misalnya :

a.   Masih ada sekolah yang rusak berat, sedang dan ringan yang belum diperbaiki terutama di sekolah/ madrasah  swasta

b.   Masih ada kelas yang diisi siswa lebih dari 36 orang

c.   Masih ada kelas yang sering rusak dan bocor karena sekolah tersebut dekat dengan lapangan olah raga, sehingga bola sering memecahkan genting, dll

d.   Ukuran kelas yang masih belum standar. Biasanya kelas ukuran kecil diisi sekitar 20-24 siswa dan ukuran standar diisi 36-38 siswa

e.   Masih banyak SD/MI yang menggunakan kursi tanpa sandaran (model kuno)

f.    Masih banyak sekolah/ madrasah yang belum memiliki labaratorium yang memadai

g.   Sarana laboratorium masih banyak yang kurang

h.   Masih banyak guru SD/MI yang belum memiliki ruang dan isinya yang memadai

i.    Jumlah kamar mandi tidak mencukupi (tidak seimbang antara jumlah kamar mandi dengan jumlah siswa

j.    Belum semua sekolah/Madrasah memiliki jumlah judul buku seperti yang diharapkan dalam SPM

 

3.4.    Bagaimana hasil evaluasi terhadap kinerja guru (PNS, Non PNS atau Guru tetap yayasan)?

 

•    Hasil evaluasi terhadap kinerja guru (PNS, Non PNS atau Guru tetap yayasan) antar lain sebagai berikut :

a.   Masih banyak Guru yang belum memaksimalkan penggunaan alat peraga

b.   Guru belum bisa merancang RPP dengan baik

c.   RPP tidak diaplikasikan dalam kelas

d.   Di MI masih jarang dilakukan supervisi

e.   Jenis pelatihan yang diberikan kepada guru masih belum merata

 

3.5.    Bagaimana meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan lainnya?

 

•    Cara meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan lainnya antara lain adalah sebagai berikut :

a.   Pelatihan untuk tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan dan dilakukan secara berkesinambungan

b.   Peningkatan minat mengajar dan kopetensi guru

c.   Pengubah mindset guru (ada guru yang malas mengembangkan diri sehingga cara mengajarnya tidak menarik, ada guru mengajar karena terpaksa/ dari pada tidak bekerja) melalui pelatihan ESQ

d.   Masih sangat perlu pelatihan K-13

 

3.6.    Bagaimana meningkatkan partisipasi komite sekolah dalam pengembangan pendidikan?

 

•    Cara meningkatkan partisipasi komite sekolah dalam pengembangan pendidikan adalah sebagai berikut :

a.   Membuat SK kepenguruan Komite dan mengaktifkan perannya

b.   Memberi pemahaman kepada komite sekolah tentang tupoksinya sesuai dengan Kepmendiknas No. 044/U/2002 (pemberi pertimbangan, pendukung, pengontrol dan sebagai mediator)

c.   Komite sekolah haru dilibatkan dalam penyusunan perencanaan/ program sampai penganggaran (RKS sampai RKAS)

d.   Perlunya keterbukaan/ transparansi dengan Komite sehingga komite akan mendukung penuh program sekolah

e.   Memberi pelatihan bagi komite dalam menggalang PSM

 

3.7.    Faktor pendukung apa saja yang dapat meingkatkan prestasi guru dan tenaga pendidikan lainnya?

 

•    Faktor pendukung yang dapat meningkatkan prestasi guru dan tenaga pendidikan lainnya?

a.   Pelatihan bagi tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhannya secara berkelanjutan dan dilakukan monev

b.   Memberikan reward kepada guru yang berprestasi untuk dijadikan staf (misalnya wakasek) dan melakukan pembinaan bagi guru yang kurang

c.   Pelaksanaan pelatihan ESQ secepatnya oleh motivator yang mempunyai backgroud pendidik dan monev

d.   Guru harus mempunyai kemauan dan kemampuan untuk berprestasi

e.   Bimbingan dan kontrol dari kepala sekolah

f.    Ada kolaborasi dari KKM dan KKG

g.   Kemenag perlu ada kegiatan untuk pengembangan prestasi guru

h.   Perlunya tunjangan bagi pendidik dan tenaga kependidikan terutama yang belum PNS dan belum sertifikasi

i.    Pentingnya peran pengawas

 

3.8.    Bagaimana strategi mengelola sekolah/madrasah yang baik?

 

•    Strategi mengelola sekolah/mad. yang baik :

a.   Melihat kondisi lingkungan (melakukan SWOT), menyusun perencanaan/program/RKS dan RKAS

b.   Partisipatif, transparansi, networking dengan masyarakat sekitar dan perusahaan

c.   Ada visi dan misi yang jelas yang dipahami dan dijalankan oleh stakeholders sekolah

d.   Sekolah harus memiliki keunggulan (studi banding ke sekolah yang sudah bagus mutunya)

e.   Pelatihan/workshop bagi kepala sekolah memahami tupoksinya terutama managerial sekolah

f.    Pelatihan bagi guru terutama dalam K-13 dan menggunakan alat peraga dengan benar

g.   Sinergitas antara kepala sekolah, guru, komite dan stakehorders sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan

h.   Mengoptimalkan fungsi KKG/KKM, MGMP, KKS, MKKS

i.    Pemenuhan Sarana dan prasarana sekolah

 

4.        Guru Sekolah/Madrasah

 

4.1.    Apakah semua anak usia sekolah di kabupaten/kota ini bisa bersekolah di SD/MI atau SMP/MTs?

 

•    Masih ada anak usia sekolah di kabupaten Gresik yang tidak bersekolah tingkat SMP/MTs dan ini bukan karena tidak memilki biaya sekolah, melainkan motivasi anak itu sendiri (misalnya di daerah Ujung Pangkah). Faktor lingkungan

 

4.2.    Apa yang menjadi kendala (siswa dan guru) untuk menuju ke sekolah?

 

•    Masih ada kendala (siswa dan guru) untuk menuju ke sekolah, misalnya di daerah Menganti dan sekitranya. Jalannya tidak bisa diakses dari manapun, sehingga kalau sudah banjir sekolah diliburkan sampai 1 minggu.

•    Di daerah Serabah Bawean ada kesulitan untuk mengakses ke arah sekolah (hanya bisa dilalui dengan jalan kaki)

 

 

 

 

 

4.3.    Apakah ada persoalan dengan kondisi sarana dan prasarana sekolah/madrasah seperti ruang kelas, meja, kursi dan perlengkapan lainnya?

 

•    Masih ada persoalan dengan kondisi sarana dan prasarana sekolah/madrasah seperti ruang kelas, meja, kursi dan perlengkapan lainnya, terutama di Sekolah/ Madrasah swasta.

•    Masih ada ruang kelas yang rusak, berat, sedang dan ringan yang perlu untuk diperbaiki

•    Masih ada ruang kelas yang diisi sampai 40 anak (misalnya di daerah Driyorejo). Hal ini dikarenakan setelah laporan PPDB de Dinknas, ada tambahan/ pindahan siswa dari daerah lain.

•    Untuk memenuhi jumlah jam mengajar guru (24 jam), kelas dipecah sehingga hany diisi 26 siswa dan ruang kelas yang dipakai biasanya laboratorium IPA, laboratorium Bahasa, maupun perpustakaan.

•    Masih ada MI dan MTs yang menggunakan kursi panjang gandeng dengan meja, jadi kursi siswa tidak ada sandarannya

•    Masih banyak laboratorium dan isisnya yang kurang memadai

•    Masih banyak guru SD/MI yang belum memiliki ruang dan isinya yang memadai

 

4.4.    Bagaimana dengan ketersediaan buku referensi dan buku pengayaan?

 

•    Ketersediaan buku referensi dan buku pengayaan di Sekolah dan Madrasah masih perlu dilengkapai

•    Perpustakaan di SD (misalnya di Driyorejo) tidak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah, sekolah hanya membeli sendiri

•    Masih banyak MI/ MTs yang kekurangan buku pengayaan maupun buku referensi

•    Perpustakaan sering dipakai sebagai ruang kelas sehingga buku pegangan maupun buku referensi tidak terurus

•    Masih banyak sekolah/ madrasah yang belum mempunyai pustakawan, sehingga manajemen perpustakaan belum dilaksanakan dengan baik

 

4.5.    Apakah ada masalah dengan meningkatkan prestasi anak didik? Bagaimana strategi meningkatkan prestasi anak didik?

 

•    Masih ada Sekolah/ Madrasah yang mempunyai masalah dengan meningkatkan prestasi anak didik.

•    Di MI/MTs masih ada guru lulusan S1 dan tidak linier dengan mata pelajaran yang diampu

•    Belum semua penilaian kinerja guru dievaluasi oleh kepala sekolah/ Madrasah, sehingga kepala sekolah meminta bantuan guru senior dari setiap mata pelajaran untuk memberi pendampingan

•    Masih kekurangan pengawas di MI dan MTS. Misalnya satu orang pengawas mengawasi 12 MTs dan 7 MA

•    Masih ada pengawas di sekolah dan madrasah yang kehadirannya tidak satu bulan sekali dan tiap melakukan pengawas ada yang kurang dari 3 jam

•    Di SMPN1 Bungah, kekurangan lapangan olah raga, yang ada hanya lapangan ukuran 50m x 50m. Hal ini merupakan sebab anak didik kurang berprestasi dalam olah raga

•    Peran guru: pepmerian TPP masih belum diimbangi dengan peningkatan kualitas anak didiknya.

•    Masih banyak guru yang belum bisa mengoperasikan laptop/ teknologi informatika

•    Masih banyak guru yang belum memahami tentang K-13

 

Strategi meningkatkan prestasi anak didik antara lain :

•    Perlu pelatihan tentang K-13 bagi guru yang belum menguasai K-13 dan monev

•    Pelatihan IT/ teknologi informatika bagi guru dan monev

•    Mengoptimalkan KKG, MGMP, KKS dan MKKS

•    Peningkatan kapasitas managerial bagi kepala sekolah

•    Menggalakkan lomba-lomba bagi anak didik

•    Melengkapi sarana dan prasarana terutama perpustakaan dan laboratorium

•    Pemberdayaan komite sekolah

 

4.6.    Faktor apa saja yang pendukung terhadap peningkatan prestasi anak didik?

 

•    Motivasi dari orang tua sekaligus anak didik

•    Motivasi kepala sekolah, guru, pengawas dan komite dalam memajukan mutu sekolah

•    Sanpras dan lingkungan

•    Penghargaan dari sekolah terhadap prestasi bagi anak didik masih kurang

•    Pengembangan kapasitas kepala sekolah dan guru yang berkesinambungan serta pelaksanaan pendampingan dan monev dari pengawas

 

4.7.    Bagaimana kondisi faktor-faktor pendukung tersebut?

 

•    Kondisi faktor-faktor pendukung tersebut terutama sanprasnya termasuk media pembelajaran masih kurang. Misalnya 3 rombel hanya mempunyai 1 alat peraga

•    Masih banyak guru yang belum memahami K-13 dan IT/ teknologi informatika

•    Masih banyak sekolah yang belum memberdayakan komitenya

•    Masih ada kepala sekolah yang belum mengimplementasikan managerial di sekolah dengan baik

 

4.8.    Bagaimana strategi mengelola sekolah/madrasah yang baik?

 

•    Planning : warga sekolah paham tentang SNP dan SPM sebagai dasar menyusun RKS

•    Organisir : Kepala sekolah menggali informasi dari guru-guru untuk meningkatkan kualitas sekolah

•    Warga sekolah harus terbuka menyampaikan segala uneg-unegnya kepada sekolah

•    Actuiting : kepala sekolah mampu menggerakkan semangat warga sekolah untuk mencapai visi

•    Controling : Kepala sekolah mampu untuk mengendalikan, monitoring, evaluasi dan memberi umpan balik dari pelaksanaan kegiatan di sekolah

•    Warga sekolah iklas untuk melakukan kegiatan secara partisipatif, transparan dan akuntabel demi peningkatan mutu anak didik

•    Kualifikasi dan kompetensi pendidik perlu ditingkatkan melaui kuliah dan pelatihan

•    Pemenuhan sarpras

 

 

 

5.        Komite Sekolah/Madrasah

 

5.1.    Apakah sudah memahami SPM?

 

Semua komite sekolah belum paham tentang SPM

•    Anak didik harus diberi pelayanan sesuai dengan SPM

•    Harus ada pemahaman SPM kepada seluruh komite sekolah di kabupaten Gresik

•    Pelayanan standar harus mempertimbangkan fisik sekolah

 

5.2.    Apa saja peran komite sekolah? Apa saja yang sudah berjalan?

 

•    Masih banyak komite sekolah yang masih belum memahami tupoksinya sebagai Komite sesuai dengan Kepmendiknas No. 044/U/2002, namun mereka sudah melakukan kegiatan seperti :

a.   Sebagian komite sekolah sudah menjembatani kepentingan dewan guru dan wali murid

b.   Melakukan kerjasama dengan dunia industri, terutama di sekolah/ Madrasah di sekitar pabrik dalam menggalang dana

c.   Sebagian komite sekolah sudah berani memberi pertimbangan terhadap fungsi sekolah

d.   Sebagian komite sudah memberi koreksi terhadap kegiatan sekolah

e.   Komite harus peduli terhadap dunia pendidikan dan harus berani memebri masukan

f.    Komite sekolah/ madrasah swasta harus pintar dalam mencari akses sumber dana

g.   Komite harus mengenal program sekolah

h.   Peran serta dalam menyusun RAPBS

 

5.3.    Apakah ada persoalan dengan pelaksanaan peran komite sekolah?

 

•    Masalah utama dengan pelaksanaan peran komite sekolah adalah belum semua komite memahami tupoksinya, kapasitas komite perlu ditingkatkan dan ada kepala sekolah yang tidak ingin jadi mitra kerja komite sekolah

 

5.4.    Apa saja yang harus dilakukan komite sekolah dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/madrasah? 

 

•    Dalam rangka meningkatkan mutu sekolah/madrasah Komite sekolah harus :

a.   Memahami tupoksinya dan berani mengimplementasinya

b.   Iklas dalam melaksanakan tupoksinya

c.   Perlunya studi banding ke sekolah yang lebih bagus dalam mengelola sekolah

d.   Memperjuangkan guru honorer yang gajinya masih rendah

 

5.5.    Bagaimana kerjasama antara kepala sekolah, guru dan komite sekolah?

 

•    Kerjasama antara kepala sekolah, guru dan komite sekolah tergantung kondisi sekolah dan wilayah sekolah.

a.   Ada warga sekolah yang mengganggap komite menjadi mitra sekolah/ madrasah

b.   Ada komite yang belum bersinergi dengan warga sekolah

c.   Ada komite yang belum bisa berperan aktif, karena belum memahami tupoksinya

d.   Ada kepala sekolah yang tidak memerankan komite sebagai mitra, karena sesuatu hal

 

•    Cara meningkatkan partisipasi komite sekolah dalam pengembangan pendidikan adalah sebagai berikut :

a.   Membuat SK kepenguruan Komite dan mengaktifkan perannya

b.   Memberi pemahaman kepada komite sekolah tentang tupoksinya sesuai dengan Kepmendiknas No. 044/U/2002 (pemberi pertimbangan, pendukung, pengontrol dan sebagai mediator)

c.   Komite sekolah haru dilibatkan dalam penyusunan perencanaan/ program sampai penganggaran (RKS sampai RKAS)

d.   Perlunya keterbukaan/ transparansi dengan Komite sehingga komite akan mendukung penuh program sekolah

e.   Memberi pelatihan bagi komite dalam menggalang PSM

 

5.6.    Bagaimana mengenai jumlah waktu belajar di sekolah/madrasah?

 

Jumlah waktu belajar di sekolah/madrasah : masuk jam 07.00-14.00

Kelas 1 dan 2 : 3 jam

Kelas 3,4,5 : 6 jam

Kelas 6 : 7 jam

 

5.7     Bagaimana dengan mata pelajaran pokok di sekolah/madrasah?

 

a.   Sarana dan prasarana sekolah cukup memadai

b.   Sekolah memiliki SDM yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya

c.   Ada sarana untuk mengikuti pelatihan di luar sekolah

d.   Siswa melakukan Tryout

e.   Dalam meningkatkan mutu sekolah, sesekali sekolah perlu untuk study banding ke sekolah yang lebih maju atau berkualitas

f.    Kepala sekolah memiliki kemampuan manajerial yang bagus. 

g.   Kepala sekolah harus transparan dan partisipatif dalam mengelola sekolah

 

5.8.    Bagaimana dengan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah?

 

•    Tidak ada rangsangan kegaiatan eskul dari pemerintah (dengan tidak ada kegiatan porseni)

•    Faktor dana sangat berpengaruh pada kegiatan ekskul

•    Kegiatan ektra kulikuler di sekolah/ madrasah dilaksanakan tergantung sekolah masing-masing, mengingat keterbatasan dana. PSM untuk Ekskul sulit untuk dibangun kembali, karena menurut masyarakat semuanya harus gratis.

 

5.9.    Bagaimana strategi meningkatkan mutu sekolah/madrasah?

 

•    Sarana dan prasarana sekolah cukup memadai

•    Sekolah memiliki SDM yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya

•    Ada sarana untuk mengikuti pelatihan di luar sekolah

•    Siswa melakukan Tryout

•    Dalam meningkatkan mutu sekolah, sesekali sekolah perlu untuk study banding ke sekolah yang lebih maju atau berkualitas

•    Kepala sekolah memiliki kemampuan manajerial yang bagus. 

•    Kepala sekolah harus transparan dan partisipatif dalam mengelola sekolah